Lasagna, Kwetiau Rebus, Nasi Goreng, ato Pizza?

Tadi sore di sebuah taman di lantai teratas sebuah gedung tinggi di Jogja, aku menunggu sunset bersama 3 orang lainnya. Aku menanti sunset sambil twitteran. Di twitter temen-temen kelasku lagi ngributin tentang nilai makul Financial Management (FM) yang baru saja di rilis.

Nah, pas itu tiba-tiba temen kelasku yang lagi twitteran satu-persatu seakan pada muncul di tempat itu, sambil pada ngobrol sama kayak apa yang di obrolin di twitter. Mereka pada duduk lesehan santai di lantai kayu bersusun di taman atap gedung itu.


Yang menarik disini adalah ada beberapa temenku yang dia ngerasa dapet nilai yang kurang memuaskan di makul FM tersebut, padahal di penjurusan ato konsentrasi nanti dia mau milih Finance. Sebut saja mereka itu FMers.

Lalu ada salah satu dari FMers yang dia mulai mempertimbangkan konsentrasi lain selain FM. Mungkin karena nilai FM mereka kurang memuaskan, dan siapa tau dari makul lain ternyata hasilnya lebih memuaskan. Jadi dengan milih jurusan yang hasilnya baik, kedepannya proses perkuliahan juga akan baik. Tapi ndak, para FMers masih teguh untuk memilih finance.

Ada juga FMers yang dia tetep milih finance karena dia emang pengen mempelajari finance, walau nilai FM mereka kurang memuaskan. Dia pengen bener-bener mempelajari apa yang ada pada Finance. Puas ato tidak puas dengan nilainya, dia tetep milih FM.

Bagaimana dengan aku? Aku sendiri sempet bingung, 51% pilihan jatuh di marketing yang dimana aku suka, bisa, dan butuh sama marketing. Tapi 49% pilihan jatuh pada Human Resources Management (HRM) yang juga butuh dan juga suka sama HRM.


Well, coba kasus ini aku analogikan kayak ketika ada orang mau masak untuk makan malam dengan 4 pilihan menu: lasagna, kwetiau rebus, nasi goreng, ato pizza.

Katakanlah ada yang mau makan malam pake lasagna, tapi ndak bisa masaknya. Bisa aja mereka tetep maksain untuk masak lasagna, tapi harus berjuang lebih untuk cari resep agar bisa bikin lasagna. Itu kayak yang milih finance tapi nilai FMnya kurang memuaskan. Bisa aja tetep pilih Finance asal besok bisa lebih serius lagi belajar.

Ato milih kwetiau rebus, karena pengen sama yang seger-seger dan berkuah. Itu sama kayak kalo milih jurusan karena satu topik yang emang kita pengen pelajari. Kayak pilih jurusan marketing agar bisa menjual product. Ato pilih finance karena pengen belajar tentang keuangan. Ato belajar HRM agar bisa ngatur orang.

Ada juga yang milih lasagna ato kwetiau rebus bukan karena mereka suka ato bisa ato pengen, tapi karena temen makan mereka ato yang punya rumah (di rumah temen misalnya) request menu itu. Ada yang pasrah, yaudah nuruti request menu itu, ada juga yang debat dulu baru di putuskan menunya. Itu kayak yang  pilih jurusan karena tuntutan orang tua. Ada yang pasrah, ada yang debat juga. But, it’s okay kalo akhirnya mereka sama-sama suka…

Ato pilih masak nasi goreng aja yang mudah, meski ga terlalu suka. Mau gimana lagi, mau lasagna ga bisa bikin, mau mie rebus ga suka kuah, maka dipilihlah nasi goreng yang mudah di buat tapi rasanya lumayan laah. Itu kayak milih HRM yang cukup mudah dapet nilai bagus, meski ndak terlalu suka sama HRM. Tapi karena itu sudah pilihan, mau ga mau ya harus suka sama HRM dengan harapan agar lancar sentausa. Daripada kalo milih pilihan lain yang lebih suram.

Tapi yang jelas ga bakal milih pizza, selain karena ga bisa masaknya, bahannya pun juga ndak ada. Kayak mau pilih Operation Management yang cukup complicated di pelajari, tapi juga ndak di buka kelasnya, hehehe…

Paling bagus adalah ketika milih lasagna karena suka, bisa buatnya, dan bahannya juga ada. Kayak milih Finance ato Marketing ato HRM karena suka, merasa mudah mempelajari, dan kelasnya juga tersedia. Adakah? Ada, beruntunglah mereka…

Yap, tentu semua pilihan menu ada cost and benefitnya. Apakah mau buat lasagna yang lezat tapi harus latihan dulu, ato harus diskusi dulu sama yang punya rumah, ato pilih kwetiau karena prioritas lain, ato nasi goreng yang mudah dan sukup lezat, ato milih pizza yang ndak tau masaknya dan ndak punya bahannya. Semua ada baik buruknya.


Tapi  kurasa temen-temenku semua sudah cukup dewasa untuk memutuskan pilihan mereka. Paling tidak mereka tau keuntungan dan resiko dari setiap pilihan mereka. Bukankah setiap pilihan pasti ada cost and benefitnya? Itulah pilihan. Hidup memang penuh pilihan.

Nah, kembali ke twitter tadi. Masih di suasana taman di atap gedung dengan angin sepoi-sepoi aku memandangi timeline twitter. Akhirnya temen-temenku yang tadi satu-persatu pada hadir di atap gedung tadi mulai pada memutuskan untuk pindah tempat duduk dari lesehan ke kursi pilihan mereka masing-masing. Ada yang duduk di kursi santai yang bisa buat tiduran, ada yang di kursi gantung, ada yang di kursi bermeja, ada juga yang di kursi silinder biasa. Yap, itulah pilihan mereka. :)

No comments yet.

Leave a Reply